MAKE IT SIMPLE, KEEP IT SIMPLE
Berbagai hal dan kejadian, bila dibiarkan dengan sendirinya cenderung mengarah kepada konflik. Hal ini wajar karena berbagai perubahan terus terjadi, dimana setiap perubahan cenderung menimbulkan masalah. Itulah sebabnya ada yang mengatakan bahwa hidup adalah keputusan, dan setiap saat, setiap orang perlu membuat keputusan yang mempengaruhi kualitas kehidupannya, termasuk keputusan untuk memperumit atau mempermudah segala permasalahan yang ia hadapi. So….. make it simple, and keep it simple….
Hubungan antar manusia merupakan sesuatu yang sangat amat lembut (delicate) dan rapuh. Itulah sebabnya batas antara cinta dan benci bisa menjadi amat tipis. Hal ini disebabkan karena berbagai perbedaan karakter yang ada dalam diri setiap insan membuatnya unik dan khas, namun sekaligus rentan berbeda dari yang lain, termasuk pasangannya. Kemampuan seseorang mengelola berbagai perbedaan sangat mempengaruhi kualitas hidupnya, termasuk kualitas hubungan dengan pasangannya. Suatu pasangan yang terus bertahan harmonis, hangat dan romantis, pasti sangat piawai dalam mengelola berbagai perbedaan diantara mereka sehingga hal tersebut tidak membawanya ke arah konflik yang alamiah, melainkan justru ke arah yang positif dan konstruktif.
Banyak teori, kiat dan anjuran yang ditawarkan orang-orang bijak. Mungkin anda termasuk orang yang telah mengikuti berbagai pelatihan tentang interpersonal skills dengan berbagai jurus yang sudah anda ketahui. Namun mengapa kondisi riel nya menjadi begitu sulit? Jawabannya mungkin adalah karena anda belum make it simple, and keep it simple.
HANYA TIGA ELEMEN PENENTU
Dalam berbagai pengalaman dalam membimbing pasutri (pasangan suami istri), kami menemukan bahwa bila disederhanakan, hanya ada tiga elemen yang menentukan kehangatan hubungan anda dengan pasangan. Platform (landasan) yang solid, Sikap Memberi Kehangatan, dan Komunikasi Romantis. Banyak pasutri yang semula menganggap ini terlalu disederhanakan, over-simplified. Dan secara berkelakar saya menanggapinya dengan K.I.S.S (keep it simple….stupid! – maaf ini hanya kelakar/joke). Justru karena begitu sederhananya ide ini efektif. Belum pernah ada pasutri yang datang kepada kami dengan niat ingin memperbaiki hubungannya, tidak berhasil, atau setengah berhasil. Maka yakinlah bahwa hal yang segera disampaikan dibawah ini sangat efektif, justru karena kesederhanaannya.
Pembahasan berikut ini diperuntukkan bagi pasangan yang normal (tidak memiliki kelainan perilaku tertentu dalam berhubungan), yang telah dan akan saling bersatu dalam hubungan yang serius.
Elemen 1: Solid Platform (landasan yang kokoh)
Pernahkan anda mengalami situasi yang serba membingungkan karena ketidak jelasan tujuan/arah/cara yang harus ditempuh? Menjadi serba salah? Diam salah, bertindak salah? Landasan yang kokoh adalah tentang rumusan norma-norma yang anda berdua sepakati dalam 6 hal umum yang paling sering mengganggu kehangatan hubungan pasutri:
- · Komunikasi
o Kapan mengkomunikasikannya? Dalam kondisi yang bagaimana? Kapan dan bagaimana cara menunda mengkomunikasikannya?
- · Kehangatan
o Lebih rinci hal ini akan di bahas dalam Elemen 2: Giving Warmness (sikap memberi kehangatan).
- · Argumen dan konflik
o Setiap orang memiliki kecenderungan gaya konflik yang spesifik. Kenali dan sepakati tiga hal:
§ Cara penyelesaian argumen dan konflik yang layak untuk setiap jenis kasus.
§ Gaya konflik alamiah anda sendiri.
§ Gaya konflik pasangan anda.
§ Cara mengupayakan penyelesaian argumen dan koflik bagi masing-masing anda berdua untuk setiap jenis kasus.
Konflik yang ditangani dengan gaya alamiah mengikuti suara hati dan naluri, PASTI tidak akan menyelesaikan masalah dan akan menjerumuskan anda berdua pada situasi ‘menang-menangan’ (saling ingin menang).
- · Norma tata krama dan pergaulan Norma ini perlu dirumuskan secara spesifik, baik untuk pergaulan sesama gender (jenis kelamin) maupun antar gender, untuk tatanan pergaulan pekerjaan maupun pergaulan sosial dan keluarga. Anda perlu lebih peka memahami latar belakang ‘budaya’ pasangan anda. Seseorang yang terbiasa dengan tata krama yang sangat santun tentu sangat berbeda dengan yang terbiasa gaya hidup metropolitan yang “gaul”, baik untuk urusan sosial maupun bisnis. Menghindari kejelasan dalam hal ini hanya akan merusak kehangatan hubungan anda, karena berbagai prasangka bisa ikut mengacaukan.
- · Leadership (kepemimpinan) “Tentu sang suami yang harus memimpin”, begitu kata berbagai norma yang berlaku dalam masyarakat kita. Namun apakah dalam cara memasak pun harus dipimpin? (Masukkan bawang dulu baru kecapnya….). Dalam hal apa yang perlu diberi aturan umum yang memandu dan detailnya diserahkan kepada pasangan anda, dan dalam hal apa yang perlu pembahasan dan keputusan anda, sebagai istri/suami? Anda berdua perlu merumuskan hal ini, sekali lagi sambil berjalan/paralel dengan kegiatan sehari-hari. Yang juga penting, anda perlu konsisten dan konsekuen mematuhi dan menghormati keputusan yang diambil pasangan anda dalam kapasitasnya. Bila ada yang ternyata kurang sesuai, kompromikan apakah insiden yang bersangkutan perlu dirubah, atau perubahan dilakukan pada aturan mainnya dan diberlakukan untuk kasus-kasus yang akan datang.
- · Ekonomi Bagaimana pengaturan keuangan, hasil pendapatan, pengeluaran, tabungan, asset, dan lain-lain? Sistim budget menggunakan amplop atau buku tabungan (dengan atm card) untuk masing-masing pos pengeluaran, atau yang bagaimana? Siapa yang memutuskan masuk ke pos mana, keluar dari pos mana? Untuk nominal berapa? Bagaimana dengan memberi/menerima bantuan dari keluarga lain atau teman? Bila semua ini telah ditetapkan, pelaksanaan selanjutnya tinggal bergulir secara transparan.
Sekali lagi perlu diingatkan, anda perlu membangun dan membentuk ketiga elemen ini secara santai namun serius. Segala sesuatu yang ditangani secara terlalu tegang atau terlalu menyepelekan, tidak akan membuahkan hasil yang baik.
Elemen 2: Giving Warmness (Memberi Kehangatan).
Masih ingatkah anda saat-saat masih berpacaran, saat-saat salah satu pasangan melakukan pendekatan dan mulai diterima oleh pasangannya? Saat hubungan anda masih baru dan hangat-hangatnya sebelum membuat komitmen dan/atau menikah? Secara umum ada sikap yang nyata ditemukan dalam pasangan yang sedang “hot”, sikap memberi kehangatan, Giving Warmness. Perhatian, kasih sayang, bahkan materi diberikan kepada pasangannya seakan tanpa pamrih, tanpa banyak menuntut. Segala perbedaan “kecil” dilunakkan dan tidak dipermasalahkan, segalanya menjadi indah berbunga-bunga.
Mengapa begitu komitmen diikrarkan, baik dalam bentuk hubungan yang lebih serius maupun dalam bentuk pernikahan, semuanya menjadi berubah? Sikap ‘Giving’ berubah menjadi ‘Demanding’ (menuntut). Kehangatan dan kasih berubah menjadi keharusan dan kewajiban? Anda bisa membayangkan, atau bahkan sudah merasakan, betapa berbedanya iklim yang timbul hanya akibat perubahan sikap ini. Situasinya seperti berubah akibat tombol Giving di ‘off’ kan, dan tombol ‘Demanding’ di ‘on’kan. Sesederhana itu.
Sesederhana itu pulalah mengembalikannya seperti saat masih ‘hot’. ‘Off’ kan tombol ‘Demanding’, dan ‘On’kan tombol ‘Giving’, serta isi ‘Giving’ dengan ‘Warmness’ (kehangatan).
Tips: Kehangatan bagi setiap individu bisa berbeda satu dengan lainnya. Anda perlu mengenali apa dan cara yang dipersepsikan ‘hangat’ oleh pasangan anda. Komunikasi yang terus terpelihara sangat membantu anda saling lebih mengenal dan memahami persepsi yang dianut pasangan anda.
Elemen 3: Romantic Communication (Komunikasi yang Romantis).
Adakah yang lebih indah dari suatu hubungan yang romantis? Bukankah ini yang menyebabkan cinta yang buta? Ada pepatah yang mengatakan: “…if there is one thing that can conquer a great power…it must be love…” (… kalaupun ada yang bisa menaklukkan suatu kekuasaan yang hebat…pastilah itu cinta…). Dan bahan bakar cinta adalah romantisme. Dengan sikap ‘Giving Warmness’ yang telah terbangun, anda dapat melakukan ‘Romantic Communication’ dengan mudah dan mengalir indah. Anda hanya perlu menemukan apa yang romantis bagi masing-masing pasangan anda. Komunikasikanlah dengan terbuka dan transparan. Musuh anda adalah diri anda sendiri, yang mugkin terlalu gengsi untuk meminta, menyatakan bahwa anda butuh. “Seharusnya dia sudah mengerti dengan sendirinya!” adalah anggapan yang TOTAL keliru. Anda perlu terus memintanya, membutuhkannya. Sanggupkah anda menampik atau menolak permintaan lugu seorang anak kecil yang lucu? Berhasratkah anda memberi kepada orang yang egois dan menyebalkan?
Tips:
1. Bila setelah mencobanya anda masih mengalami kesulitan mewujudkan semua hal di atas, anda perlu mempelajarinya secara khusus melalui berbagai bacaan yang tersedia di toko-toko buku, atau melalui berbagai seminar atau coaching. Bila masih menemui kesulitan, mungkin saatnya anda mencari bantuan profesional yang membidangi hal ini. Membiarkan hubungan anda bertumbuh dengan cara yang kurang sehat hanya akan seperti melepas berbagai bom waktu yang tidak jelas kapan akan meledak, menggelinding mengikuti kehidupan anda berdua.http://www.facebook.com/notes.php?id=100001251042812¬es_tab=app_2347471856#!/note.php?note_id=171289596218817
